Cerita ini berawal dari kelahiran putra kembar. Disebutkan bahwa nama mereka adalah Derry(kakak) dan Harry(adik). Mereka dilahirkan di kota Denpasar, Bali. Ayah mereka adalah orang Sunda. Sedangkan Ibunya berdarah Bali. Derry dan Harry dilahirkan di Bali karena urusan pekerjaan yang dikerjakan oleh Ayahnya. Tentunya Ayah dan Ibu mereka bahagia akan kelahiran mereka. Derry dan Harry mempunyai kakak laki-laki juga. Dia bernama Dion, dan Dion memiliki kakak pula yang bernama Jesy. Dengan begitu mereka semua adalah keluarga besar yang sangat utuh dan bahagia.
Namun, dibalik kebahagiaan mereka, tak selamanya selalu baik. Dion adalah anak yang nakal. Kini dia berusia 5 tahun. Sifatnya terlalu hyperactive dan tidak bisa diatur. Sampai suatu ketika, Dion dengan sengajanya memukul adiknya sendiri(Harry), hingga Harry dalam keadaan kritis. Pihak keluarga sangat sedih, karena kejadian itu sangat membuat mereka terpukul. Jesy berusaha meyakinkan ayah dan ibunya bahwa Harry pasti akan selamat. Jesy memang anak yang memiliki budi nurani yang luhur. Dia sudah duduk di bangku kelas 4 SD. Doa ayah, ibu, dan Jesy membuat Harry selamat dari masa kritisnya. Semua pihak keluarga bersyukur akan keadaan ini.
10 tahun pun berlalu, kini Derry dan Harry tumbuh menjadi anak-anak yang ceria, begitu pula Dion yang tumbuh menjadi remaja yang tampan, dan Jesy menjadi wanita dewasa yang sopan dan ramah. Namun, Dion masih memiliki sifatnya yang dulu yakni tidak bisa diatur dan mau seenaknya saja. Setiap hari Jesy selalu mengajarkan Dion untuk berbuat yang adil dan ramah, namun sia-sia hasilnya. Berbeda halnya dengan Derry dan Harry, walaupun mereka kembar, tapi sangatlah mengerti akan keadilan dan sopan santun. Jesy bangga akan adiknya yang kembar tersebut. Jesy berharap suatu hari nanti mereka berdua bisa menjadi panutan bagi Dion untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya.
Kini Dion bersekolah di salah satu SMP (Kelas IX) di kota Bandung. Bisa dikatakan bahwa dia adalah anak yang berandalan. Entah sampai kapan Dion akan berubah. Mungkin, waktu yang akan menjawab semua. Saat di sekolah, Dion selalu bertengkar dan membantah ajaran dari gurunya. Padahal Dion sudah dilaporkan kepada orang tuanya, namun tetap saja dia tidak mau merubah sikap. Disisi lain, Derry dan Harry kini bersekolah di salah satu SD di Bandung (Kelas 5 SD). Prestasi mereka dibilang sangat hebat. Dan mereka berusaha bersaing dengan sehat dalam segala bidang tanpa ada pertengkaran. Sungguh bangganya orang tua mereka, sampai-sampai rencananya orang tua mereka akan mengajak Derry dan Harry kuliah di Universitas di Amerika Serikat.
Suatu ketika, Derry, Harry, diajak oleh Dion berkemah di salah satu kawasan hutan di Bandung. Tentunya berbagai persiapan telah mereka jalani. Saat tiba di lokasi, mereka pun membuat tenda. Namun Dion menyuruh Derry dan Harry tidur diluar tenda. Sungguh kejamnya sifat Dion, yang tak mempedulikan adiknya tersebut. Derry dan Harry pun ikhlas tuk menjalaninya. Keesokan paginya, Dion mengajak untuk berpetualang melintasi areal terjal. Areal tersebut sangat curam dan berbahaya. Saat mencoba untuk mendaki, tiba-tiba tali temalinya Dion putus dan secara sigap Derry dan Harry memegang tangan Dion. Entah bagaimana cara mereka untuk menyelamatkan Dion.
Harry pun berpesan kepada Dion :
"Kak, jika ini akhir hidup kakak, maafkanlah kesalahan kami, tentunya kami selalu membuat kakak susah"
Dion Berkata:
"Tidak Har, justru kakaklah yang selama ini membuat kalian semua susah, sekarang kakak malu sekali akan perbuatan kakak ini. Kakak akan berjanji untuk merubah sikap kakak, dan akan menjadi panutan kalian seperti keinnginan kak Jesy. Jadi, maafkanlah kesalahan kakak selama ini."
Derry dan Harry pun berusaha untuk menarik Dion dengan perasaan yang sedih. Akhirnya berkat perjuangan mereka berdua Dion pun terselamatkan. Kini Dion menjadi anak yang baik dan berbudi nurani luhur. Semua ini berkat ikatan tali persaudaraan diantara mereka yang mampu mempersatukan mereka kembali. Jesy pun bangga terhadap Derry dan Harry. Dan Dion pun meminta maaf kepada seluruh pihak keluarga akan sikapnya yang selama ini tidak terpuji. Mereka semua kini menjadi keluarga yang harmonis dan sempurna.
Seiring dengan berjalannya waktu, sangat membanggakan bahwa prestasi Dion di sekolah meningkat pesat dari biasanya. Guru-guru dan semua pihak sekolah pun bangga telah memiliki murid seperti Dion
Disisi lain, Jesy memutuskan untuk kuliah di Seoul, Korsel. Adik-adik Jesy sedih, karena tidak bisa melihat canda tawa kakaknya itu. Sebelum Jesy pergi, Derry memberikan simbol persaudaraan berupa miniatur burung merpati, masing-masing satu untuk Harry, Dion, dan Jesy sebagai pertanda biarpun kita berada jauh, tapi merpati merupakan simbol bahwa persaudaraan itu akan tetap abadi. Kini perjuangan hidup mereka lebih menantang dengan kepergian Jesy untuk berkuliah di Korsel.
Tunggu Kisah Selanjutnya
BERSAMBUNG













Tidak ada komentar:
Posting Komentar