Diceritakan dari sudut pandang anak perempuan yang baru saja lahir dari seorang pengusaha batik. Pengusaha batik itu bernama Yena. Yena sudah menikah selama 6 tahun dengan suaminya yang bernama Raka yang merupakan keturunan Bali asli.
Saat malam hari, Yena melahirkan seorang putri. Yena belum sempat memikirkan nama untuknya. Sebelumnya, dia sudah mempunyai seorang putra yang bernama Radit. Radit berumur 2 tahun. Ayah Radit senang akan kelahiran putrinya tersebut. Di ruangan penyimpanan bayi, terdapat 5 bayi yang dilahirkan pada hari itu. Tiba-tiba kipas angin menerbangkan 2 label nama dari 5 label nama yang tertempel pada tempat tidur bayi. Saat perawat datang ke ruangan itu, tanpa sengaja dia salah menempatkan label nama yang terbang tersebut. 24 jam kemudian, Yena memberikan nama bayinya dengan nama Riza tanpa mengetahui bahwa anaknya telah tertukar. Disebutkan, Riza lahir pada tanggal 21 Maret.
13 tahun berlalu, Riza yang kerap disapa Risa tumbuh dewasa dan berpenampilan lugu, cantik, dan anggun. Dia bersekolah di SMP Yogyakarta. Riza 1 sekolah dengan kakaknya (Radit) dengan memiliki kemampuan yang berbeda antara mereka berdua. Radit sangat suka musik, jadi dia handal dalam menciptakan suatu lagu. Selain itu, Radit memiliki wajah tampan sehingga banyak wanita yang tertarik padanya. Sedangkan Riza, sangat handal dalam bidang kerajinan, begitu banyak jenis kerajinan Yogya yang telah ditekuninya.
Radit dan Riza, sangat akrab dan kompak, biarpun secara Biologis mereka bukan saudara kandung. Selama 13 tahun, fakta bahwa Riza bukan anak kandung Yena, belum terungkap.
Tepat tanggal 21 Maret, Riza berulang tahun yang ke 13. Ulang tahun Riza kali ini sangat spesial dan istimewa, karena Radit memberikan hadiah berupa sebuah lagu kepada Riza. Lagunya ini menceritakan tentang "Cinta pertama yang kandas karena dipisahkan oleh takdir Yang Maha Kuasa". Riza sangat menyukai lagunya itu, salah satu syair lagunya menyatakan bahwa "Tak peduli kau seperti apa, berpikir apa, berkata apa, yang jelas takdir akan mempertemukan kita walau hidup ataupun mati". Selain sebuah lagu, Radit juga mengajak Riza pergi piknik di perkebunan teh yang tak jauh dari sekolahnya. Mereka bernyanyi, tertawa, dan tersenyum sampai hari menjelang petang. Malam hari tiba, saat mereka menuruni bukit, tanpa sengaja Riza terpeleset sampai ke lereng bukit. Radit terkejut dan bergegas ke lereng bukit. Namun nasib berkata lain, Riza pingsan dan banyak mengeluarkan darah.
BERSAMBUNG












Tidak ada komentar:
Posting Komentar